Oleh: deetha | September 20, 2008

Oase Kemunafikan

Sudah dua minggu ini, sosok pria misterius hadir dalam kehidupanku. Dia tidak menampakkan batang hidungnya, suaranya, bahkan aura kehadirannya pun tak pernah kurasakan. Dia seseorang yang benar-benar ada tetapi tidak pernah ada. Entahlah, kenapa dia menjuluki dirinya Pria 12.00 pm. Aku pun tidak ingin tahu. Logikanya, dia selalu hadir tepat pukul 12.00 pm di mana sejak detik itu malam-malamku tak pernah lagi dihiasi bunga tidur yang mencanduiku setiap malam.

Pria 12.00 pm hanyalah seorang pecundang. Seorang pecundang mencari kenalan dengan sms salah sambung dan sudah kodratnya dari hanya perkenalan basa-basi berlanjut dengan pertanyaan menuju hal yang spesifik. Dia jadi ingin tahu kehidupan pribadiku. Selalu mengorek-ngorek dan menginterogasiku. Menyebalkan, sudah seharusnya aku acuhkan. Tetapi, ingin mengacuhkannya pun, sayang. Mungkin, karena dia datang pada waktu yang tepat. Saat aku membutuhkan teman untuk menampung keluh kesahku. Meski ia tak pernah tahu siapa yang aku bicarakan, dia selalu menanggapi semua sms yang kukirimkan padanya. Karena itu, meskipun diriku dilanda kantuk yang berat, aku akan berusaha bangkit membaca smsnya.

Begitulah, kepadanya, kuceritakan semua kegelisahanku tentang Alan. Ia tunanganku, dan sejak Aira hadir dalam kehidupannya, ia banyak berubah. Dari Alan, aku tahu bahwa Aira baru saja menamatkan sarjananya di Jepang. Katanya, dulu mereka berteman. Tapi, ketika terus kutanyakan tentang Aira, Alan tidak pernah mau menjawabnya.

Sejak awal aku memang tidak suka kepada Aira. Itu pun sudah kukatakan langsung pada Alan. Tapi, Lagi-lagi Alan tidak sepaham denganku. Dia menegaskan hubungannya dengan Aira hanya sekadar teman lama. Aku sempat percaya, tetapi kenyataan berkata lain. Buktinya, saat aku membutuhkan Alan di sampingku, kenapa Aira selalu mengekor di belakangnya?

Jujur, setiap kali memandang mata perempuan itu, ia seperti mengisyaratkan bahwa tidak lama lagi Alan akan menjauh dariku. Aku muak dengan senyum palsunya kepadaku. Aku muak kepura-puraannya bersikap ramah kepadaku. Apa pun kata Alan tentang hubungannya dengan Aira, semua itu pasti bohong. Apalagi dengan kejadian dua minggu yang lalu, saat aku menelepon Alan, ternyata perempuan itu lancang mengangkat teleponnya di saat ia tidak berada di tempat. Sedekat itukah hubungan pertemanan mereka? Gara-gara itu, kami pun jadi ribut. Alan malah membelanya dan menuduhku posesif.

Pria 12.00 pm selalu setia membaca keluh kesahku lewat sms. Kata-katanya selalu menguatkanku. Beban hatiku terasa ringan karena sudah berbagi kisah dengannya. Aku tidak mau memendamnya sendiri. Aku sudah tidak percaya lagi dengan teman-temanku. Kadang mereka mengadu domba hubungan kami. Mereka selalu ingin mencampuri urusan kami. Sementara Pria 12.00 pm, menurutku ia adalah orang yang tepat untuk mengetahui semua masalahku karena ia tidak mengenal tokoh-tokoh di dalamnya.

***

Semua sudah hancur. Harapanku untuk menikah dengan Alan hanyalah omong kosong. Andaikan saja orangtuaku tidak mengirimku sekolah ke luar negeri, mungkin aku dan Alan saat ini sudah bahagia. Tidak ada orang ketiga, hanya ada aku dan Alan. Aku menyesal, tidak mengikuti kata hatiku. Alan saat ini sangat sulit untuk kugapai. Di ruang hatinya sudah tidak ada tempat untukku. Posisi yang aku idamkan kini sudah diambil orang. Padahal aku sudah menunggu hari kepulanganku tiba. Tetapi, apa yang kudapatkan? Kenyataan pahit yang sulit kutelan.

Saat aku menemui cinta pertamaku, di sampingnya ada seorang perempuan dengan sosok angkuhnya. Dengan wajah tanpa dosa dia memperkenalkan diri sebagai tunangannya. Cincin berlian tersemat ditangan kirinya. Brengsek, dia sengaja memperlihatkannya kepadaku bahwa ikatan mereka tidak main-main. Perempuan itu tidak pantas disejajarkan dengan Alan. Dia hanya beruntung karena ayahnya seorang direktur perusahaan, mitra dari perusahaan tempat Alan bekerja. Alan dipercayakan untuk bersanding dengan anaknya karena dia lulus kualifikasi sebagai calon menantu idaman.

Aku tidak kalah, hanya saja aku tidak mengambil apa yang menjadi hakku. Akulah cinta pertama Alan. Ayana tidak pantas menggantikan posisiku. Dia hanya seorang anak manja yang senjatanya adalah perisai kedudukan ayahnya. Sedikit pun aku tidak bergeming, lambat laun Alan pasti sadar bahwa akulah yang masih pantas dicintainya. Rupanya Ayana mengetahui bahwa aku menyatakan perang kepadanya.

Keberuntungan masih berpihak kepadaku. Alan mempercayaiku sebagai arsitek untuk perusahaannya yang baru dibangun. Sebagai patner kerja, akan memudahkanku untuk merajut benang kasih yang sudah lama kusut. Kami jadi sering bertemu, baik di lapangan atau saat aku mengundangnya makan malam. Tetapi, penganggu tetaplah ada. Ayana begitu naïf sehingga setiap saat selalu mengontrol Alan. Menggelikan, dari jauh aku menertawakannya.

Suatu hari, Alan mengundangku makan malam. Dia memuji hasil kerjaku yang membuatnya puas. Undangan makan malam adalah hadiah terima kasih untukku. Kami bernostalgia tentang kenangan-kenangan di masa SMA. Sengaja kusinggung tentang hubungan kami yang sempat terjalin saat itu. Ternyata dia masih mengingatnya. Masa-masa indah yang akan tetap indah andaikan saja aku tidak meninggalkannya. Hatiku berbunga-bunga, harapanku tak jadi sirna.

Di tengah pembicaraan kami, Alan mulai membicarakan Ayana. Mendengar namanya saja aku tidak selera. Alan mengatakan bahwa dia mencintainya. Di balik keangkuhannya dia adalah orang yang lemah.

“Dia seperti bunga mawar. Luarnya saja terlihat tegar, tetapi dalamnya rapuh. Bunga mawar memiliki duri bukan berarti dia bisa menjaga diri. Tetapi, karena kelopaknya yang mudah gugur sehingga duri sebagai tameng, agar orang yang melihatnya akan merasa sulit untuk mengambil bunganya.” Ayolah, berhentilah membicarakannya. Tidak sadarkah perasaanku begitu terluka?

Makan malam saat itu begitu indah. Dentingan piano yang mengalun syahdu mendukung suasana yang begitu romantis. Nuansa pemandangan yang elok dengan gemerlapnya cahaya lampu yang dilihat dari ketinggian lantai 13 membuat mata tak ingin berkedip. Alan begitu elegan dengan jas hitamnya. Sesekali dia melemparkan senyuman yang membuat hatiku semakin terguncang.

Alan meminta diri untuk pergi ke belakang. Aku memperhatikan punggungnya yang tegap saat berjalan. Sampai akhirnya dia menghilang dari kejauhan. Tak berapa lama, terdengar dering handphone yang mengejutkan lamunanku. Seseorang menelepon Alan. Sekilas kubaca di layar handphone-nya, Ayana. Tanpa sadar setan telah membisikiku. Inilah saatnya untuk merebut Alan kembali. Buatlah Ayana menjadi cemburu. Tanpa dikomando, tanganku sudah mengenggam handphone Alan. Telepon Ayana aku angkat.

“Hallo,” Ayana memulai bicara.

“Hallo,” aku tersenyum sinis.

“Kau siapa? Kenapa bukan Alan yang mengangkat?” nada suara Ayana meninggi.

“Aku Aira. Alan sedang bersamaku. Sekarang dia lagi tidak bisa diganggu. Maafkan aku.” Aku menyudahi pembicaraan.

Biar kau tahu rasa, betapa sakit hatiku saat dirimu mengambil Alan dariku. Kemudian aku menghapus panggilan terjawab dari Ayana. Sebelum Alan datang, aku sempatkan untuk melihat-lihat nama kontaknya. Sampai akhirnya pada nama Ayana. Dengan cepat aku memindahkan nomornya ke handphone-ku. Aku mengatur rencana untuk membalaskan rasa sakitku.

Alan mengantarku pulang ke rumah. Malam semakin larut. Tetapi bersamanya serasa begitu singkat. Setelah dia pulang, aku bergegas masuk ke kamar. Aku putar memoriku mengulang kembali kejadian yang terjadi hari ini. Kebahagiaan ini rasanya tidak bisa lagi diukir dengan kata-kata. Kemudian aku teringat dengan nomor Ayana yang kusimpan di handphone-ku. Aku tidak sempat memikirkan kugunakan untuk apa nomor ini? Haruskah aku berterus terang dengannya siapa diriku ini dan mengancamnya untuk menjauhi Alan? Tetapi kalau seperti itu, terlalu beresiko. Bagaimana pun Alan mencintainya. Bisa-bisa ini menjadi bumerang sehingga hubungan kami kembali retak. Tidak, itu sama saja cari mati.

Sampai akhirnya aku menemukan sebuah ide untuk mengerjainya. Aku berpura-pura menjadi laki-laki dan mencoba berkenalan dengannya. Agar terlihat jadi sedikit mistik, kuatur saja supaya aku hadir setiap pukul 12.00 pm. Ini salah satu taktik agar dia terperangkap dalam permainanku.

Bodoh sekali dia, hanya sedikit rayuan gombal begitu mudahnya aku memperdayainya. Dengan penuh senyum kemenangan, akhirnya umpanku termakan juga olehnya. Tidak tanggung-tanggung, dia sendiri yang meminta untuk menceritakan hubungannya dengan Alan. Aku selalu tertawa membaca sms-nya. Darinya, aku tahu dia begitu cemburu. Ternyata begitu banyak pertengkaran menyelimuti hubungan mereka. Dasar anak manja, begitu hauskah kau dengan nasihatku? Tidak tahukah engkau, bahwa aku memperalatmu dengan tokoh khayalanku?

Aku akan terus menjadi Pria 12.00 pm seperti yang kau inginkan. Akan kumainkan peran malaikat sebagai pelipur laramu. Akan kuagungkan kau seperti ratu tetapi, di saat itu pulalah kubuat kau hancur dengan perlahan. Di hatimu, kubuat kau bertekuk lutut kepadaku, di matamu kubuat tunanganmu bertekuk lutut kepadaku. Akan kumatikan tokoh sandiwaraku di saat aku mencapai ambisiku. Di saat kau membutuhkan Pria 12.00 pm, di saat itulah dia menari tanpa bayangan. Menjauh dari kegelapan. Hilang tanpa peraduan. Tangisilah. Panggillah. Pria 12.00 pm itu, tak akan lagi menyebarkan kehangatannya.

Lonceng ke 12 Cinderella kehilangan sepatu kaca

Relung hati tak mampu bersua

Kepada siapa dia mengiba?

- Pria 12.00 pm -

Di bawah terik matahari, 10-09-08


Tanggapan

  1. wah cerpenmu panjang juga

  2. sep…sep…

  3. 12 pm? Waktu yang tepat tuk berpisah

  4. kenapa ddnia ne hrus slalu slubungi byang2 kjhtan……….
    tak ada kah kbjikan yang sbnarx………???????????

  5. “saksi bisu bahwa aku masih hidup”
    Ini Duniaku!!! Kau diam saja dan jangan ganggu . .

    keren kata-katanya sueerr, tapi gambarnya kok winnie the pooh ya? sangat tidak berkesan, gak nyambung gitu loh, sorry nih.

  6. cerpennya oke

  7. kak…..
    aku pengen tau apa arti mawar hitam dalam kehidupan?
    mawar hitam itu melambangkan apa?
    tx…..,


Beri tanggapan

Your response:

Kategori